in

Cuaca Panas Bikin Gampang Sakit, Buruan Lakukan 3 Hal Ini!

Cuaca Panas Bikin Gampang Sakit, Buruan Lakukan 3 Hal Ini!

Jakarta – Beberapa waktu belakangan ini, cuaca panas dan juga terik kembali menyerang wilayah Jabodetabek. Hal ini menjadi keluhan sebagian besar rakyat akibat umumnya Desember adalah musim hujan.

Peralihan cuaca ekstrem dikenal mampu memicu penurunan imun tubuh manusia. Akibatnya, tak sedikit orang yang mana mudah terjangkit penyakit.

Kementerian Kesejahteraan (Kemenkes RI) menyebutkan, beberapa jumlah penyakit yang rentan muncul ketika cuaca panas terik adalah dehidrasi, heatstroke, iritasi kulit, sakit kepala sebelah atau migrain, hingga demam tinggi.

Meskipun demikian, penduduk tak perlu khawatir. Sebab, risiko penyakit yang dimaksud dapat diatasi jikalau mengetahui hal-hal yang dimaksud harus diadakan pada waktu cuaca ekstrem, teristimewa panas terik.

Lantas, apa sekadar hal yang mana harus dilaksanakan pada waktu cuaca panas kembali menyerang? Berikut 3 tips agar tidak ada mudah sakit ketika cuaca panas.

Banyak Mengonsumsi Air Mineral

Cuaca panas dapat menyebabkan dehidrasi akibat tubuh kehilangan cairan secara terus-menerus. Dokter sekaligus epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menyatakan bahwa kondisi dehidrasi secara tidaklah secara langsung memengaruhi kemampuan fisik ginjal.

“Ginjal berfungsi untuk meregulasi lalu mengatur keseimbangan cairan juga elektrolit di area di tubuh. Panas ekstrem yang dimaksud bisa jadi menyebabkan dehidrasi bisa saja meningkatkan risiko gangguan ginjal,” papar Prof. Dicky terhadap CNBC Indonesia, disitir Selasa (19/12/2023).

“Salah satunya adalah batu ginjal,” tegasnya.

Berkaitan dengan dehidrasi, Kemenkes RI melalui juru bicara, dr. Mohammad Syahril, mengimbau publik Indonesia rutin untuk mengonsumsi air mineral, meskipun sedang bukan pada keadaan haus.

“Jangan mengawaitu haus. Lalu, hindari minuman berkafein, minuman berenergi, alkohol, serta minuman manis,” tegas dr. Syahril melalui keterangan resmi, disitir Selasa (19/12/2023).

Gunakan Tabir Surya (Sunscreen)

Kulit yang dimaksud terlalu banyak terpapar dengan segera sinar matahari dapat berisiko mengalami kemerahan, sunburn atau terbakar sinar matahari, hingga karsinoma kulit. Maka dari itu, penting bagi setiap individu untuk menggunakan sunscreen minimal 30 SPF.

Tidak semata-mata sekali pakai, sunscreen wajib untuk diaplikasikan ulang setiap dua jam meskipun pada waktu berawan, pasca berenang, atau berkeringat.

Hindari Paparan Sinar Matahari

Salah satu cara untuk menghindari risiko penyakit akibat cuaca panas adalah mengempiskan aktivitas pada luar ruangan pada waktu siang hari.

Apabila terpaksa harus beraktivitas pada luar rumah ketika panas terik, gunakan pakaian yang dimaksud melindungi diri dari sinar matahari, seperti topi, baju berbahan ringan dan juga longgar, hingga payung.

Penyebab Cuaca Panas Terik pada waktu Desember

Deputi Sektor Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan juga Geofisika (BMKG), Guswanto, mengungkapkan bahwa kondisi panas terik ketika Desember yang mana melanda Jabodetabek dipengaruhi oleh dinamika atmosfer.

Menurut Guswanto, kondisi atmosfer berpengaruh pada peningkatan curah hujan terkonsentrasi pada wilayah Jawa bagian berada dalam juga timur selama beberapa hari.

“Saat ini memang benar secara umum wilayah Jawa sudah ada memasuki musim hujan, meskipun kondisi hujan pada beberapa hari terakhir terjadi belum merata dengan lama durasi yang bervariasi,” kata Guswanto terhadap CNBC Indonesia, Awal Minggu (18/12/2023).

“Kondisi yang dimaksud tentunya dipengaruhi oleh kondisi dinamika atmosfer di area mana pada beberapa hari terakhir, aktivitas fenomena atmosfer yang tersebut cukup berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan lebih banyak terkonsentrasi di dalam wilayah Jawa berada dalam lalu timur, sementara pada wilayah Jawa bagian barat tiada terlalu signifikan,” jelasnya.

Dia menjelaskan dinamika atmosfer adalah adanya pola tekanan rendah. Ini adalah menyebabkan pola belokan lalu perlambatan angin yang memicu perkembangan awan hujan ada dalam bagian sedang juga timur.

Sementara itu, di area wilayah Barat juga terjadi pola subsiden. Menurut Guswanto, fenomena itu memicu pengurangan peningkatan awan hujan dalam wilayah tersebut.

“Jadi, cuaca cenderung umumnya cerah-berawan lalu hujan yang digunakan masih belum terlalu signifikan,” ungkap Guswanto.


Sumber : CNBC

Written by admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Kasus Covid RI Naik, Cek Aturan Kemenkes Soal Isolasi Mandiri

Kasus Covid RI Naik, Cek Aturan Kemenkes Soal Isolasi Mandiri

12 Negara Paling Jago Bahasa Inggris, Ada Indonesia?

12 Negara Paling Jago Bahasa Inggris, Ada Indonesia?